Ujung-Ujung Hujan
Puisi Ujung-Ujung Hujan Karya Aan Mansyur
dulu dalam dingin kita berpelukan
sambil membayangkan ujung-ujung hujan
sebagai kembang api yang merayakan
cinta yang tak akan pernah dijarakkan
sampai tibalah hari-hari itu
kau berlalu, aku menutup pintu
dan ujung-ujung hujan yang jatuh
tumbuh jadi rerumputan dan perdu
hari ini, tiba-tiba aku ingat kau,
di dada jalan yang membawamu jauh
setiap ujung hujan yang menyentuh
adalah mekaran bunga-bunga beribu
Tema Puisi
Tema: romansa
Puisi ini berisi mengenai perasaan rindu terhadap sang kekasih, menyalurkan rasa rindunya dengan latar-latar penuh kenangan ketika mereka masih bersama.
Ujung Hujan
Langit senja itu dipenuhi awan kelabu. Hujan turun dengan rintik kecil, perlahan menggenangi jalan setapak yang biasa kami lalui. Aku berdiri di depan jendela, mengingat saat-saat di mana kita dulu sering berteduh bersama. Kita berpelukan dalam dingin sambil menatap hujan yang jatuh seperti kembang api kecil yang merayakan cinta kita. Waktu itu, rasanya dunia hanya milik kita berdua.
"Kau tahu?" katamu suatu waktu. "Aku selalu suka melihat hujan turun begini. Rasanya seperti dunia sedang merayakan kita."
Aku tersenyum, menarikmu lebih dekat. "Ya, aku juga. Rasanya seperti kembang api kecil, tapi lebih sunyi. Mungkin karena tidak ada ledakan suara, hanya rintik yang jatuh perlahan. Tapi tetap saja, rasanya indah dan menenangkan."
Dulu, setiap tetesan hujan adalah sebuah perayaan. Kita membayangkannya sebagai kembang api yang tidak hanya menyinari langit, tetapi juga menghangatkan dada kita. Kebahagiaan yang kita kira akan abadi selalu terasa dalam setiap rintik yang membasahi bumi. Tak pernah terlintas dalam benakku bahwa suatu hari semua itu akan berakhir. Tidak pernah terbayang bahwa ada peristiwa yang akan mengubah segala hal menjadi kenangan yang menyakitkan.
Hari itu datang seperti mimpi buruk yang tak terelakkan. Kau berdiri di ambang pintu, menggenggam gagang koper dengan wajah yang sulit aku tafsirkan. Aku ingin berbicara, ingin memintamu tinggal, tapi suaraku tertahan di tenggorokan. Wajahmu sendu, namun langkah kakimu tetap tegap.
"Aku harus pergi," katamu pelan, nyaris tak terdengar di antara suara hujan.
Aku menatapmu, mencoba memahami makna di balik kata-katamu. "Pergi ke mana? Sampai kapan? Apakah kau akan kembali?"
"Aku tidak tahu," jawabmu. "Mungkin lama. Mungkin selamanya."
Aku menahan napas, berusaha menyadari bahwa kau tidak akan kembali. Hujan terus turun di luar, tapi kali ini tidak terasa seperti perayaan. Ujung-ujung hujan yang dulu kita kagumi kini berubah menjadi benih-benih kesedihan yang tumbuh menjadi rerumputan dan perdu. Mereka memenuhi halaman rumah, mengakar di hatiku, menjadikannya taman sunyi yang hanya berisi kenangan tentangmu. Aku mencoba melupakan, mencoba menghapus jejakmu, tetapi setiap hujan turun, semua itu kembali mengalir dalam ingatanku.
Bertahun-tahun berlalu, dan hari ini, tiba-tiba aku ingat kau. Di persimpangan jalan yang membawamu pergi, aku berdiri, menatap hujan yang turun dengan cara yang sama seperti dulu. Tetapi kini, setiap ujung hujan yang menyentuh tanah tidak lagi terasa seperti kesedihan. Mereka berubah menjadi bunga-bunga kecil yang bermekaran, membawa warna baru dalam hidupku. Aku tidak lagi hanya melihat kehilangan, tetapi juga pertumbuhan. Aku menyadari bahwa kenangan tidak harus selalu menyakitkan, karena ia bisa menjadi bagian dari perjalanan menuju sesuatu yang lebih baik.
Aku sadar, meski kau telah pergi, cinta yang pernah ada tidak benar-benar lenyap. Ia hanya bertransformasi menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih lembut, lebih sunyi, tapi tetap ada. Hujan tak lagi menjadi perayaan atau kesedihan; ia kini menjadi pengingat bahwa cinta, seberapa pun jaraknya, selalu menemukan caranya sendiri untuk tetap hidup. Dalam setiap rintik yang jatuh, aku tidak lagi merasa kehilangan, tetapi merasa utuh dengan semua kenangan yang pernah kita bagi.
Komentar
Posting Komentar